Bernadia Linggar Yekti Nugraheni

Tuesday, December 13, 2005

UAS..mengerikan yah...

dear my students...
sory, ibu sibuk, terpaksa saya kasih sekarang...
Untuk AB, tolong bisa dipelajari mengenai
1. contoh produk cacat yang ada di modul saya (produk cacat ada yang sebagian
dijual, contoh soal Deco poterry), ini penting!!!
2. Alokasi biaya bersama
3. Biaya standar (analisis selisih)

untuk AKM
1. pertukaran aktiva sejenis (please apa yang saya ajarkan terakhir dipelajari),
2. Persediaan retail (eceran)
3. Investasi saham (metode cost dan equity)
4. Investasi obligasi

untuk PA
1. Rekonsiliasi (contoh soal dari saya), plus jurnal penyesuaian
2. Piutang wesel (tgl JT tempo)
3. PD (CKP, berdasar prosentase penjualan kredit bersih, prosentase saldo piutang dan berdasar daftar umur piutang)
4. Menyusun Laporan rugi laba perusahaan manufaktur
5. Usaha dagang, metode fisik dan perpetual


Good luck and God bless. I love u all...

Monday, June 27, 2005

Famine and The Legislative Salary Increasing????

"Berdasarkan data, anggaran gaji dan intensif anggota
dan pemimpin DPR Rp 314,5 miliar dan akan naik menjadi
Rp 543,2 miliar. Jika usulan itu gol, maka gaji yang
dibawa pulang anggota DPR bertambah Rp 7 juta dari Rp
24 juta lebih yang diterimanya..."

The legislative salary increasing seems to be rational. This also could be aligned with their work load.
However, this is not just about numbers, since many Indonesian people are suffering from famine at the moment.
Again, this is not "just about numbers". Above all, we need to consider the political and environmental conciousness, especially for the decision makers.
Where is the empathy? We could just say "if... and if..."
When will this country would overcome these (so many) problems?

Sunday, June 12, 2005

I Love Autumn !!!!

One day trip in Japanese Garden...Sydney




Counting down to the end of july.. I am about packing my stuffs to go home.

Friday, June 10, 2005

Ulang tahun Bayu-ku



Dia bukanlah saudara yang punya aliran darah yang sama denganku..
Dia bukanlah saudara yang disusui ibuku..
Dia bukanlah saudara yang digendong bapakku..
Dia bukanlah suadara yang dimandikan kakak-kakakku semasa kecilnya..
Dia juga bukanlah saudara yang berebut uang saku dari orang tuaku denganku..

Namun, dia sanggup mengisi jiwaku dan hari-hariku
Kehadirannya di hidupku membuat hidupku lebih berwarna
Dia juga sosok i could rely on
Terimakasih adikku..telah menjadi bagian hidupku

Selamat ulang tahun ke 27 Bayu-ku
Ini adalah ulang tahun terakhir aku bisa merayakannya untukmu di sydney..sebelum kepulanganku ke ladang asalku..
Tuhan menyertai mu selalu...

Thanks untuk airin, andi, asti, budi yang sudah membuat kebersamaan itu terjadi.

Thursday, June 09, 2005

Kebenaran itu memang pahit

Kebenaran itu memang pahit. Kebenaran itu memang berat.
Tetapi hanya Kebenaran yang mampu memerdekakan manusia.
Mengapa?
Karena antara manusia dengan Tuhan memang tidak ada perantara dan pengantara apapun, sebab antara manusia dan Tuhan hanya ada satu pengakuan akan kemutlakan kebenaran. Kebenaran itu hanya satu, atau benar atau tidak benar, dan tidak ada setengah benar atau sebagian benar.
Semua yang mengingkari atau mencemoohkan,kebenaran hanyalah hidup dalam "alam maya" kemunafikan.
Tidak ada kebenaran pada diri mereka itu.
Antara manusia dan Tuhan, tidak ada perantara atau pembela karena ujung-ujungnya yang berhadapan hanyalah antara engkau dengan Kebenaran yang adalah substansi atau kodrat Tuhan itu sendiri.
Siapa yang tidak berasal dari Kebenaran menjadi tidak kompatibel dengan Tuhan, seperti kegelapan yang tidak pernah kompatibel dengan terang.
Begitu terang kebenaran terbit, lenyaplah kegelapan dan begitu terang terhalangi maka kegelapan pun mencekam hati manusia

Terimakasih mang Iyus..sangat menyentuh

"Seperti Dia yang datang seperti mata pedang dan mampu menembus dan memisahkan jiwa manusia dari hatinya, demikianlah tidak ada yang tersembunyi di hadapan Nya.."

Tuesday, June 07, 2005

"Does God Exist???"

“ I think, every occasion happened in cause-effect relationship…”
“ I would find and do anything else to forget all my problems…”
“ I know how to overcome my problems, because I know the causes…”
“There is rational reason for everything that happens in this world… ”

Those were the conversations with some friends of mine, in a campus lawn in Sydney, while we were having lunch. The question was “do you believe in outer power, another stronger power beyond us”. Or, radically, “do you believe in God? does God REALLY exist?”

We keep questioning about this thing. It could be understood, as we life in a very rationalistic world at the moment. Everything must be proven empirically and evidenced statistically through research, observation, tangible evidences, and so on.

There is no wrong or right answer for that question. Everybody has his/her opinion. As God gives us free will and free understanding, and so do we have a free choice, whether to believe in God or not. Then, human, in the name of God, created “religion”, and some of us claimed that a particular religion was the best. Again, it was not wrong, as far as we don’t force other people to follow our opinion, which lead to a fanaticism.

Unfortunately, we forget that God never created religion, but human. We trapped into a situation where we have no respect each other, and even, killing each other. Some tragic moments happen around the world that might make our tear dropped while we were remembering people who become the victim. September 11, Irak war, Bali bombing, Tentena bombing and other horrible occasions around the world were evidences of human brutality under fanaticism of particular believe. We believe that it is not the fruit of the sacred thing behind the religion itself, but it is merely human acts, for their own pride and satisfaction.

“Why don’t we just be kind to other people, rather than killing each other in the name of God?” That question surprised me until now. Yes, we who believe in a very sacred and holy God could hurt other people and could take people’s life. I wanted to say “yes, why don’t we?” However, we are chosen people. God had chosen us to be His children who believe in Him. We don’t chose Him, He chose us. And this is a kind of bless, and we must be thankful become His chosen people.

“Where is your God, who loves You, but forsaken You” This was the question, while Jesus was hung on the cross. We’re always seeking God, and keep shouting “where are You God? Why do you let this happen to me? We forget, that God is our heart, in our life, in every single thing that happens in our life. Even, through the storm in our life, He is really there for us….

The same question is still there “does God really exist?”.

There is no definition of God
There is no empirical evidence about God
There is no tangible appearance of God
He who is invisible
He who has no sound
He who gives the sun to goodies and baddies
He who is as far but as close to us
He who cerates the earth
He who gives life to us
He who loves us
He who turns the tides and calm the angry sea
With faith, we believe, He really exists.
With faith, we confess, He is the true God
With faith, we would say, He is the living God

“Kawula ngakeni, ing ngarsanipun Gusti Sang Maha Kuasa
Bilih kawula sampun nglampahi dosa, srana gagasan, tetembungan,
Tindak tanduk, saha ing pakerti ingkang damel boten renaning penggalih Dalem
Awit saking lepat kawula, pramila kawula nyuwun, kaliyan sederek sedaya, supados nyembayangaken kawula tiyang dosa punika, dumateng Gusti Sang Maha Kwasa, supados kawula luwar saking dosa-dosa kawula.”

Berhagialah mereka yang tidak melihat namun percaya..karena PERCAYA ITU INDAH
......kutulis kala kegalauan datang menghampiriku.....

Monday, June 06, 2005

Perancis Tolak Konstitusi Uni Eropa : Eropa Hadapi Krisis

Mimpi buruk bagi Eropa akhirnya terjadi ketika sekitar 55 persen penduduk Perancis memilih "tidak" terhadap Konstitusi Uni Eropa,dalam referendum yang dilaksanakan hari Minggu (29/5). Dengan hasil seperti itu, sudah dipastikan Konstitusi UE tidak akan diimplementasikan karena sesuai dengan aturan, konstitusi harus diratifikasi oleh 25 negara anggota UE. Hasil referendum Perancis ini bukan saja menimbulkan krisis di Eropa,tetapi juga ketidakpastian politik di Perancis.

Di Brussels, Belgia, para pemimpin Eropa sangat menyesalkan hasil referendum tersebut dan kini berkutat memikirkan langkah-langkah penyelamatan agar proyek besar tentang sebuah Eropa yang bersatu tidak kandas. Mereka memutuskan bahwa proses referendum di negara-negara UE lainnya harus tetap berlanjut.
Di Perancis, Presiden Jacques Chirac mengambil ancang-ancang untukmemulihkan kredibilitas pemerintahannya melalui rencana perombakan kabinet, di tengah spekulasi pengunduran diri Perdana Menteri Jean Pierre Raffarin. Hasil referendum ini pun memengaruhi nilai tukar euro terhadap dollar AS di 12 negara, yang anjlok ke tingkat paling rendah selama tujuh bulan terakhir,yaitu satu euro setara dengan 1,2526 dollar AS.

Namun, penolakan di Perancis telah menimbulkan efek domino baginegara-negara lainnya. Sejumlah jajak pendapat di Belanda menunjukkan bahwa posisi kubu "tidak" makin menguat di sana.Suasana pesimistis juga dirasakan di Inggris yang menurut jadwal akanmelaksanakan referendum tahun 2006. Sejak awal rakyat Inggris dinilai sangat skeptis, bukan saja dengan Konstitusi UE, tetapi dengan blok UE sekalipun.
Menurut The Guardian, dengan hasil referendum Perancis, kemungkinan besar Inggris tak akan melaksanakan referendum.Perdana Menteri Inggris Tony Blair kemarin mengatakan, kini saatnya Eropa melakukan refleksi diri. "Yang terpenting dari semua ini adalah masa depan Eropa, khususnya ekonomi Eropa," katanya.

Konstitusi UE ditandatangani di Roma bulan Oktober 2004 setelah melaluiperdebatan keras selama bertahun-tahun. Konstitusi ini akan membuat proses pengambilan keputusan di dalam blok lebih singkat dan efektif, dan juga merepresentasikan "suara tunggal" kepada dunia luar. Konstitusi juga akan menetapkan sistem kepresidenan yang lebih langgeng, termasuk menetapkan seorang menteri luar negeri.
Sejak jauh hari Chirac sudah menyatakan tidak akan mundur apabila hasilreferendum Perancis dimenangi oleh kubu "tidak". Namun, ia diperkirakan akan segera merombak kabinetnya untuk menjaga kredibilitas pemerintahannya.

Media massa Perancis yang cenderung prokonstitusi umumnya terenyak dengan hasil referendum tersebut. "Ini adalah bencana habis-habisan. Epidemi populisme telah menerjang apa pun termasuk integrasi Eropa, perluasan UE, reformasi, bahkan kemurahan hati," tulis harian Liberation.
Dengan gagalnya implementasi Konstitusi UE, Eropa akan menjalankankesehariannya berdasarkan Traktat Nice 2001 yang memang memiliki mekanismeuntuk mengatur fungsi blok yang beranggotakan 25 negara ini. Keputusan blokakan diambil melalui Dewan Menteri yang memiliki sistem voting yang tidakpraktis dan selama ini menjadi sumber "pertikaian" negara anggota.

Ekonomi Kerakyatan, Etika Menuju ''Jagaddhita''

Oleh I Gede Sutarya

EKONOMI kerakyatan sebenarnya merupakan kesadaran terhadap kehidupan bersama. Pada kehidupan bersama ini, semua manusia saling tergantung satu sama lainnya. Karena itu, satu kelompok manusia tidak bisa meminggirkan kelompok lainnya. Jika salah satu kelompok saja maju dengan mengekang kelompok lainnya, maka perputaran ekonomi hanya akan berada pada kelompok itu. Sebab, kelompok lainnya yang dikekang, tidak akan memiliki daya beli. Hal ini akan membatasi gerak ekonomi. Sebab, perputaran barang akan menjadi sangat terbatas. Pembatasan ini akan menyebabkan stagnasi ekonomi. Stagnasi ekonomi akan mengakibatkan krisis ekonomi. Jadi, kemenangan kelompok seperti ini jelas tidak akan membawa keberlangsungan kehidupan dalam jangka panjang. Karena itu, kerja sama untuk maju bersama merupakan hukum alam semesta yang berlaku juga dalam ekonomi.

Agama Hindu menyebutkan hukum alam semesta tersebut sebagai Rta. Weda-weda mengajarkan umat manusia untuk selalu mengikuti Rta jika ingin selamat. Karena itu, apabila perekonomian ingin selamat mengantarkan kehidupan ini, harus mengikuti Rta tersebut. Rta ini selanjutnya menjadi Dharma (etika atau sejenisnya). Rta dan Dharma diajarkan kepada umat manusia untuk kerahayuan (keselamatan). Karena itu, jika manusia ingin selamat harus mengikuti Rta dan Dharma. Kedua hukum ini mengajarkan manusia untuk bekerja sama. Jadi, manusia harus bekerja sama untuk menjaga keberlangsungan kehidupan. Tanpa kerja sama, kehidupan tidak akan terjaga keberlangsungannya.

Secara tradisi di Bali, kesadaran ini telah tumbuh sejak berabad-abad lalu. Masyarakat Bali mewujudkannya dalam kerja sama pembagian air (sumber kehidupan) dalam organisasi pertanian yang disebut subak. Kesadaran ini sebenarnya tumbuh dari penghayatan terhadap Isa Upanisad dalam agama Hindu. Kitab ini menyatakan bahwa seluruh alam semesta merupakan milik Tuhan, manusia hanya bisa mengambil secukupnya untuk dirinya sendiri (Isawasyam idam sarwam). Jadi, manusia tidak bisa mengambil segala sesuatu yang berlebihan. Jika manusia bisa mengambil secukupnya maka Tuhan menjamin keberlangsungan kehidupan manusia. Tetapi bila manusia mengembangkan kerakusan, ini akan mempercepat kehancurannya. Sebab, telah menjadi hukum alam semesta (Rta) bahwa kerakusan merupakan penyebab kehancuran.> > Bhagavad Gita menyatakan bahwa kama (nafsu, kerakusan) merupakan penyebab dari kehancuran diri. Kitab ini lebih jauh lagi menjelaskan, kerakusan (kama) hanya akan menyebabkan kekecewaan (bukan kepuasan). Kekecewaan akan melahirkan kebingungan. Kebingungan akan melenyapkan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, manusia akan mengalami kehancuran. Oleh karena itu, manusia tidak bisa mengembangkan kerakusan. Manusia mesti mengembangkan kebersamaan. Jadi, manusia perlu berbagi kepada sesama dan lingkungannya. Kebijaksanaan ini kemudian berkembang menjadi berbagai tradisi dalam masyarakat Hindu.

Yadnya dan Sevagram

Kebijaksanaan seperti ini berkembang menjadi tradisi yadnya di Bali. Mahatma Gandhi di India mengembangkannya menjadi bentuk pelayanan sosial (Sevagram). Semua itu memiliki hakikat sama, yaitu berbagi kepada sesama manusia, bahkan lebih luas lagi kepada seluruh makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Kebijaksanaan masyarakat Hindu seperti ini telah menggetarkan masyarakat barat sejak abad ke-19 Masehi. Ketika itu, Swami Vivekananda mendengungkan persaudaraan umat manusia di tengah sentimen antarras di belahan bumi ini. Pernyataan Swami Vivekananda ini memang terbukti benar bahwa manusia perlu mengembangkan persaudaraan, bukan permusuhan.

Tradisi yoga kuno -- untuk mencapai pembebasan dari penderitaan -- juga merupakan sumber inspirasi dari ajaran ini. Yoga mengajarkan disiplin Ahamkara (melepaskan rasa kepemilikan) bila ingin mencapai pembebasan dari penderitaan (Jagaddhita). Disiplin ini termasuk ke dalam latihan-latihan dasar yang tertuang dalam Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata. Setelah manusia bisa melakukan disiplin ini, barulah mereka bisa melakukan langkah-langkah selanjutnya, seperti konsentrasi (dhyana) sampai pada samadhi. Sebab, jika seseorang tidak bisa melepaskan rasa kepemilikannya (Ahamkara), mereka tidak akan mencapai jalan menuju Tuhan (kebahagiaan).> > Tuhan, menurut Weda-weda adalah Satyam (kebenaran), Shiwam (kesucian) dan Sundaram (keindahan). Semua itu adalah penyebab kebahagiaan (Jagaddhita). Jadi, melewati Ahamkara (rasa kepemilikan), merupakan disiplin untuk mencapai Tuhan. Jika tidak berhasil melewati ini, sang jiwa akan kembali turun kepada Panca Maha Bhuta yang akan mengantarkan manusia untuk berputar-putar di samudera samsara (penderitaan). Demikianlah Rsi Kapila, seorang filsuf Hindu, menjelaskan tentang metamorfose jiwa menuju kebahagiaan. Pada tahap pertama, jiwa harus melewati unsur terkasar, kemudian yang halus dan selanjutnya yang terhalus, yaitu budhi (kecerdasan), mahat (kesadaran) dan Ahamkara (tanpa keegoan). Jika telah melawati ini, manusia baru bisa mencapai Sang Hakikat (Tuhan) yang menjadi sumber kebahagiaan (Jagaddhita).

Saling Bergantung

Sumber kebahagiaan tersebut sebenarnya adalah dua unsur yang saling bergantung, yaitu Purusha (spirit) dan Pradhana (energi). Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Purusha dan Pradhana mesti terus bekerja sama untuk menjaga kehidupan. Pada titik ini, Rsi Kapila dalam ''Philsafat Samkya'' sebenarnya mengajarkan kepada umat manusia bahwa kerja sama adalah hakikat yang menjadi penyebab kebahagiaan (Jagaddhita). Jadi, melepaskan rasa kepemilikan (Ahamkara) merupakan satu syarat penting untuk mencapai kebahagiaan. Sebab, hakikat yang tertinggi sesungguhnya merupakan perpaduan yang harmonis. Perpaduan inilah yang menyebabkan kebahagiaan.

Ekonomi pun tidak bisa terlepas dari kenyataan ini. Sebab, ekonomi merupakan alat untuk mencapai Jagaddhita. Jadi, ekonomi tidak bisa melepaskan dirinya pada hukum ini. Ekonomi mestilah bisa membentuk kesadaran untuk pembangunan bersama. Jadi, pelaku ekonomi mestilah membangun kesadaran bahwa mereka tidak bisa hidup sendiri.

Jadi, masyarakat Bali sebenarnya telah menyimpan ''alat'' untuk menjaga keberlangsungan kehidupannya -- yang terwujud dalam organisasi ekonomi seperti subak. Saat ini, manusia Bali perlu mengembangkan etika ekonomi ini dalam kehidupan yang lebih maju. Mahatma Gandhi mengembangkan tradisinya menjadi gerakan Sarwadaya (membangkitkan kekuatan bersama) untuk menghadapi zaman baru yang kerap berekses pada eksploitasi (penjajahan).

Masyarakat Bali pun mesti mengembangkan gerakan serupa untuk menghadapi tantangan zaman ini. Gerakan-gerakan individual (gerakan tanpa kesadaran untuk maju bersama-sama) hanya akan melemahkan diri sendiri.
Weda-weda mengajarkan, manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri (Nresangsia) hanya akan melahirkan keterikatan kepada kama (nafsu). Keterikatan ini merupakan perbudakan terhadap diri sendiri -- hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan jangka pendek.

Penulis, Ketua Aliansi Pemuda Adat Bali, tinggal di Bangli